Sabtu, 19 Mei 2012

DERITA MUMTAZ YANG DIBASUH AIR KERAS

Menampik Lamaran, Mumtaz Dibasuh Air Keras

Untuk kali pertama, gadis Afghanistan itu menunjukkan dirinya pada dunia.




Mumtaz kini tinggal di penampungan perempuan korban kekerasan (CNN)

Bidadari Bumi  - Wajahnya gadis 18 tahun itu kini tak lagi rupawan, bagai meleleh akibat siraman air keras. Namun, Mumtaz--nama perempuan itu--tak gentar. Untuk kali pertama, dia menunjukkan dirinya pada dunia, mengutarakan kisah sedihnya, tentang kekerasan yang dialami perempuan di negerinya: Afghanistan.

Mumtaz menceritakan sebuah pengalaman mengerikan, saat pria yang lamarannya dia tolak, menyerangnya dengan air keras. Pria kejam itu berpendapat, jika tak bisa menikahi gadis pujaannya, pria lain juga tak boleh. "Aku merasa begitu buruk, aku bahkan tak berani bercermin," kata dia kepada CNN.

Jawaban "tidak" dari keluarga Mumtaz itu harus dibayar mahal. Suatu malam, beberapa pria datang dan menyerang seluruh keluarganya. Ayahnya dipukuli hingga babak belur.

Masih lekat dalam ingatan Mumtaz, saat dua pria menjambaknya, menengadahkan mukanya, agar pria yang ingin menikahinya itu menyiramkan air keras ke wajahnya. "Selama 10 hari aku dirawat di rumah sakit di Kunduz, kemudian mereka membawaku ke Kabul," kata dia.

Sakit yang ia rasakan kala itu sungguh tak terperi. "Sebagian besar tubuhku terbakar. Saat dokter membubuhkan obat pada lukaku, aku merasa seperti dilempar ke api," kata dia.

Mumtaz kini tinggal di penampungan untuk perempuan korban kekerasan. Di sana ia hidup bersama 15 perempuan lain, sebagian besar berusia muda. "Penampungan ini sangat membantu kami. Jika tak ada mereka, aku mungkin sudah mati saat ini. Aku merasa hidupku dalam bahaya," kata dia.

Di penampungan, Mumtaz belajar membaca dan menulis untuk kali pertama selama hidupnya, sembari berharap bisa mendapatkan perawatan untuk memulihkan luka-luka di wajahnya, di India.

Ironisnya, meski luka fisik dan batin yang dialami remaja itu akan ia tanggung seumur hidup, tak satupun pria yang terlibat penyerangan itu divonis bersalah--meski sempat ditahan.

Derita Sahar Gul

Sahar Gul, wanita yang disiksa di Afganistan
Mumtaz tak sendiri. Tepat di sebelah aula di penampungan itu, juga mendekam seorang gadis yang fisik dan jiwanya babak belur akibat penganiayaan berat.

Sahar Gul, nama gadis itu, sungguh kenyang dengan penderitaan. Ia dipukuli, disundut, disiram air panas, dan kukunya robek akibat disiksa. "Neraka dunia" itu ia rasakan setelah menikah dengan pria yang usianya dua kali lipat, ketika ia baru berusia 13 tahun.

Dia dinikahkan kakaknya dengan pria itu, ditukar dengan mas kawin uang sebesar 200 ribu Afghanis atau sekitar US$4.000. Awalnya pernikahan berjalan manis, hingga keluarga suaminya menuduh dia tak bisa hamil dan tak tahu cara menjadi istri.

Hanya lantaran tak langsung hamil, Sahar Gul dituding makan terlalu banyak. Saat keluarga suaminya menganggap dia tak berguna, dia dikurung di ruang bawah tanah dan jadi objek siksaan secara rutin. Yang paling hina, Sahar Gul bahkan dipaksa melacur. "Mereka biasa membawa lelaki ke rumah. Kata mereka, mereka ingin dapat uang untuk membeli mobil," cerita gadis malang itu.

Akibat perbuatannya, ibu mertua, adik ipar dan ayah mertuanya dihukum dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara karena penyiksaan. Mereka kini sedang mengajukan banding. Suaminya sendiri masih buron.

***

Kisah Mumtaz dan Sahar Gul menggambarkan begitu rapuhnya kondisi perempuan di Afghanistan. Sebuah studi 2008 oleh Global Right mengungkapkan 87 persen dari perempuan Afghanistan dilaporkan menderita kekerasan dalam rumah tangga.

Presiden Hamid Karzai telah menandatangani undang-undang yang bertujuan menghapus kekerasan terhadap perempuan di Afghanistan. Meski pada intinya hukum itu baik, penegakannya dinilai masih jauh dari memadai. (kd)

(Viva News)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar